Animasi proses / Perkerasan jalan · Pelaksanaan di lapangan
Di lapangan · alat bergerak bersamaGerak dipercepat untuk animasiBeta
Pekerjaan lapis fondasi agregat
Lapis fondasi agregat dibangun lapis demi lapis: material ditumpahkan berjarak, dihampar motor grader setebal tebal gembur, disiram sampai kadar airnya mendekati optimum, lalu dipadatkan. Kepadatan lapangan kemudian dibandingkan dengan kepadatan kering maksimum hasil uji Proctor. Gerak alat dipercepat untuk animasi.
Memuat animasi…
Penjelasan tertulis
Urutan tahap pekerjaan lapis fondasi agregat
1
Tanah dasar siapPrepared subgrade · Di lapangan
Permukaan di bawahnya (tanah dasar atau lapis fondasi bawah) sudah dibentuk, dipadatkan, dan diperiksa elevasi serta kemiringannya sebelum lapis fondasi agregat mulai dihampar.
Elevasi dan kemiringan melintang sesuai gambar
Kepadatan dan daya dukung memenuhi syarat
Bebas genangan, lumpur, dan bagian lunak
Kesalahan umum: Bagian lunak di tanah dasar ditutup begitu saja dengan agregat. Lapis di atasnya ikut turun dan retak. Di Geotech Lab: CBR tanah dasar dari uji laboratorium dan DCP menjadi dasar desain tebal lapisan.
2
Truk materialDump truck · Di lapangan
Truk membawa agregat dari stockpile yang sudah diuji dan menumpahkannya sebagai tumpukan dengan jarak tertentu, supaya setelah dihampar jumlah material pas untuk tebal rencana.
Material dari stockpile yang gradasinya sudah lolos uji
Jarak antar tumpukan sesuai muatan truk
Truk tidak melindas lapis yang baru dipadatkan dengan berlebihan
Kesalahan umum: Tumpukan ditumpahkan sembarang jarak. Tebal hamparan menjadi tidak rata dan harus ditambal atau dikeruk. Di Base Lab: Gradasi dan mutu agregat dari JMF lapis fondasi.
3
Tumpukan materialMaterial piles · Di lapangan
Satu truk menghasilkan satu tumpukan. Jaraknya dihitung dari muatan truk, lebar hamparan, tebal padat, dan kepadatan rencana, seperti di panel di bawah.
Jarak tumpukan dipatok di lapangan
Tumpukan tidak dibiarkan lama terkena hujan
Material tidak tersegregasi saat ditumpahkan
Kesalahan umum: Tumpukan dibiarkan berhari-hari. Butir halus terbawa hujan dan gradasi berubah sebelum dihampar.
4
Motor graderMotor grader · Di lapangan
Pisau grader meratakan tumpukan menjadi lapisan dengan tebal gembur yang lebih tebal dari tebal padat rencana, sekaligus membentuk kemiringan melintang.
Tebal gembur sesuai faktor pemadatan hasil percobaan
Kemiringan melintang mengikuti patok
Material tidak terpisah antara butir kasar dan halus
Kesalahan umum: Material digaruk bolak-balik terlalu banyak. Butir kasar terkumpul di tepi dan lapisan tersegregasi.
5
PenyiramanWater tanker · Di lapangan
Truk tangki menyiram hamparan sampai kadar airnya mendekati kadar air optimum (OMC) hasil uji Proctor, supaya butir-butir mudah merapat saat dipadatkan.
Kadar air diperiksa sebelum pemadatan
Air disiram merata dan diaduk bila perlu
Penguapan diperhitungkan saat cuaca panas
Kesalahan umum: Hamparan dipadatkan dalam keadaan kering. Kepadatan rencana tidak tercapai walaupun lintasan roller ditambah. Di Base Lab: Kadar air optimum (OMC) dan kepadatan kering maksimum (MDD) dari uji Proctor.
6
Vibratory rollerSingle-drum vibratory roller · Di lapangan
Roller bergetar dengan satu drum baja memadatkan lapisan dari tepi ke tengah, dengan lintasan tumpang tindih, sampai jumlah lintasan hasil percobaan pemadatan tercapai.
Jumlah lintasan sesuai hasil percobaan pemadatan
Pemadatan dari tepi rendah ke tengah atau tepi tinggi
Kecepatan pelan dan tetap
Kesalahan umum: Jumlah lintasan dikira-kira dan tepi hamparan tidak ikut dipadatkan. Di Base Lab: Derajat kepadatan dihitung terhadap MDD hasil uji Proctor.
7
Kontrol elevasiLevel & stakes · Di lapangan
Patok di kedua tepi dan alat sipat datar dipakai untuk memeriksa elevasi, tebal, dan kemiringan melintang setelah dipadatkan.
Elevasi permukaan terhadap rencana
Tebal padat di beberapa titik
Kemiringan melintang
Kesalahan umum: Elevasi baru diperiksa setelah lapis aspal dihampar. Kekurangan tebal LFA ditutup dengan aspal yang jauh lebih mahal.
8
Uji sand coneSand cone test · Di lapangan
Lubang kecil digali di lapisan yang sudah dipadatkan. Volumenya diukur dengan pasir kering yang dituang dari kerucut, lalu kepadatan kering lapangan dihitung dari berat material galian dan kadar airnya.
Lokasi uji acak
Kepadatan kering lapangan dibandingkan dengan MDD
Kadar air material galian
Kesalahan umum: Pasir kalibrasi lembap atau kerucut tidak dikalibrasi. Volume lubang terbaca salah dan kepadatan ikut salah. Di Base Lab: Derajat kepadatan lapangan dihitung terhadap MDD dari uji Proctor.
9
Uji DCPDynamic cone penetrometer · Di lapangan
Konus ditumbuk masuk ke dalam lapisan dengan palu jatuh. Dari kedalaman tiap tumbukan diperoleh perkiraan CBR lapangan untuk memeriksa keseragaman.
Titik uji tersebar sepanjang hamparan
Rumus korelasi CBR sesuai pedoman yang dipakai
Hasil dibandingkan dengan syarat
Kesalahan umum: Hasil DCP dipakai menggantikan uji kepadatan. DCP adalah pelengkap untuk keseragaman, bukan pengganti sand cone. Di Base Lab: Korelasi DCP ke CBR lapangan tersedia di mesin pemadatan & CBR QWorks.
10
Lapis resap pengikatPrime coat · Di lapangan
Setelah lapis fondasi diterima, permukaannya disapu lalu disemprot lapis resap pengikat sebelum lapis beraspal dihampar.
Permukaan bersih dan sedikit lembap
Takaran sesuai spesifikasi
Ditunggu sampai meresap sebelum dilewati
Kesalahan umum: Lapis fondasi dibiarkan terbuka lama dan rusak dilewati kendaraan sebelum ditutup.
Animasi beta. Ilustrasi skematis satu lapis LFA, bukan metode kerja. Jarak alat, kecepatan, dan angka di panel bersifat contoh; acuan pekerjaan tetap spesifikasi kontrak, JMF lapis fondasi, dan hasil percobaan pemadatan.