Animasi proses / Perkerasan jalan · Produksi campuran beraspal
Langkah 1–6 · aliran kontinuLangkah 7–10 · per batchBeta
Cara kerja Asphalt Mixing Plant tipe batch
AMP mengubah agregat dingin dan aspal menjadi campuran panas yang siap dihampar. Bagian atasnya bekerja terus-menerus mengeringkan dan memilah agregat, bagian bawahnya mencampur per batch. Klik bagian AMP mana pun untuk melihat fungsinya dan angka dari Asphalt Lab yang dipakai di sana.
Memuat animasi…
Penjelasan tertulis
Urutan tahap AMP tipe batch
1
Cold bin & feederCold feed bin · Kontinu
Empat bin menampung agregat dingin dari stockpile, satu bin untuk satu fraksi: abu batu, agregat halus, sedang, dan kasar. Sabuk feeder di bawah tiap bin mengatur berapa banyak agregat yang keluar, lalu conveyor membawanya ke dryer.
Bukaan pintu dan kecepatan sabuk tiap feeder, dikalibrasi dalam ton per jam
Sekat antar bin, agar fraksi tidak tercampur saat loader mengisi
Kadar air stockpile, karena agregat basah memperlambat dryer
Kesalahan umum: Feeder tidak dikalibrasi. Akibatnya ada hot bin yang meluap sementara bin lain kosong, dan AMP harus berhenti menunggu. Di Asphalt Lab: Proporsi tiap fraksi agregat dari rancangan campuran menjadi titik awal setelan bukaan feeder.
2
Dryer drum & burnerRotary dryer · Kontinu
Drum panjang yang berputar dan dipasang sedikit miring. Sirip di dinding dalam mengangkat agregat lalu menjatuhkannya seperti tirai melewati gas panas dari burner. Agregat bergerak ke arah burner, gas panas mengalir berlawanan arah menuju dust collector.
Suhu agregat keluar drum, dijaga sedikit di atas suhu pencampuran
Kadar air agregat setelah dikeringkan, harus praktis nol
Nyala burner dan aliran udara, agar pembakaran sempurna
Kesalahan umum: Agregat terlalu panas. Aspal yang kemudian disemprotkan ikut kepanasan, mengeras lebih cepat, dan umur perkerasan berkurang. Di Asphalt Lab: Suhu pencampuran dari kurva viskositas aspal (170 ± 20 cSt) menjadi acuan setelan suhu agregat.
3
Dust collectorCyclone & baghouse · Kontinu
Gas buang dari drum membawa debu halus. Dust collector menyaringnya dengan siklon dan kantong filter sebelum udara bersih keluar lewat cerobong. Debu yang tertangkap bisa dikembalikan ke campuran atau dibuang.
Beda tekanan kantong filter, tanda kantong tersumbat atau robek
Jumlah debu yang dikembalikan ke elevator atau silo filler
Emisi di cerobong
Kesalahan umum: Debu dikembalikan semua tanpa dihitung. Bahan lolos 0,075 mm bertambah, rasio debu-aspal naik, dan campuran jadi kaku. Di Asphalt Lab: Gradasi gabungan dan rasio partikel lolos 0,075 mm terhadap aspal efektif (debu-aspal) dihitung di sini.
4
Hot elevatorBucket elevator · Kontinu
Elevator ember dalam selubung tertutup mengangkat agregat panas dari ujung drum ke puncak menara. Selubung menjaga agregat tetap panas dan debu tidak terbang.
Kapasitas elevator seimbang dengan produksi drum
Rantai dan ember dalam kondisi baik, agar aliran tidak tersendat
Kesalahan umum: Elevator kelebihan beban dan tersumbat, sehingga seluruh aliran kontinu ikut berhenti.
5
Vibrating screenSaringan getar · Kontinu
Saringan bertingkat yang bergetar memisahkan agregat panas menurut ukuran butir, lalu menjatuhkan tiap fraksi ke hot bin masing-masing. Butir yang terlalu besar dibuang lewat saluran oversize.
Ukuran bukaan tiap tingkat saringan sesuai fraksi hot bin
Kondisi kawat saringan, karena kawat robek membuat fraksi tercampur
Beban saringan, agar butir halus tidak terbawa ke bin kasar
Kesalahan umum: Kawat saringan robek tanpa ketahuan. Gradasi hot bin berubah, padahal proporsi timbangan tetap. Di Asphalt Lab: Gradasi tiap hot bin yang diuji di laboratorium berasal dari hasil penyaringan ini.
6
Hot binHot storage bin · Kontinu
Kompartemen penampung agregat panas per fraksi, biasanya tiga sampai empat bin. Di sinilah aliran kontinu berhenti, dan dari sini agregat mulai diambil per batch.
Contoh dari tiap hot bin diuji gradasinya
Proporsi hot bin dihitung agar gradasi gabungan masuk amplop JMF
Level tiap bin seimbang, tidak ada yang meluap atau kosong
Kesalahan umum: Memakai proporsi cold bin langsung untuk timbangan. Proporsi yang benar harus dihitung ulang dari gradasi hot bin. Di Asphalt Lab: Panel verifikasi hot-bin Marshall di langkah trial mix memakai gradasi dan proporsi hot bin ini.
7
Timbangan & silo fillerWeigh hopper · Per batch
Agregat dari tiap hot bin ditimbang berurutan di satu weigh hopper (kumulatif). Filler dari silo dibawa screw conveyor dan ikut ditimbang, sedangkan aspal ditimbang di ember timbangan tersendiri.
Berat target tiap bahan per batch, dari persen JMF dikali kapasitas batch
Kalibrasi timbangan secara berkala
Toleransi berat tiap bahan
Kesalahan umum: Timbangan aspal tidak dikalibrasi. Selisih 1 kg pada batch 1.000 kg sudah menggeser kadar aspal 0,1%. Di Asphalt Lab: Komposisi JMF (proporsi hot bin, filler, dan kadar aspal) menjadi berat target timbangan per batch.
8
Tangki aspalBitumen tank · Kontinu
Tangki berisolasi menyimpan aspal dalam keadaan panas dan cair. Pemanasnya oli panas (hot oil) yang mengalir di pipa dalam tangki. Pompa mengalirkan aspal ke ember timbangan di menara.
Suhu aspal sesuai kurva viskositas
Lama penyimpanan panas, agar aspal tidak menua di tangki
Sirkulasi pipa, agar aspal tidak membeku di jalur
Kesalahan umum: Aspal dipanaskan terlalu tinggi supaya cepat dipompa. Aspal teroksidasi sebelum sempat dicampur. Di Asphalt Lab: Kadar aspal (Pb) dan suhu dari kurva viskositas aspal.
9
PugmillTwin-shaft mixer · Per batch
Pengaduk dengan dua poros berlengan (paddle) yang berputar berlawanan arah. Agregat dan filler dicampur kering dulu, lalu aspal disemprotkan dan diaduk basah sampai semua butir terselimuti aspal.
Waktu campur kering dan basah, ditetapkan saat uji coba produksi di AMP
Suhu campuran saat keluar mixer
Selimut aspal merata, tidak ada butir yang masih putih
Kesalahan umum: Waktu campur basah dipangkas demi produksi. Butir kasar tidak terselimuti dan aspal mudah lepas (stripping). Di Asphalt Lab: Suhu pencampuran, serta contoh campuran untuk uji Marshall dan ekstraksi kadar aspal.
10
Truk pengangkutDump truck · Per batch
Pintu bawah pugmill dibuka dan satu batch jatuh ke bak truk. Setelah beberapa batch, bak ditutup terpal dan truk berangkat ke lokasi penghamparan.
Suhu campuran saat dimuat dan saat tiba di lapangan
Bak bersih dan diolesi bahan anti lengket yang tidak melarutkan aspal (bukan solar)
Terpal penutup selama perjalanan
Kesalahan umum: Truk berangkat tanpa terpal. Permukaan campuran mendingin dan sulit dipadatkan sampai kepadatan rencana. Di Asphalt Lab: Suhu pemadatan dari kurva viskositas (280 ± 30 cSt) menjadi batas suhu saat campuran tiba.
Animasi beta. Ilustrasi skematis AMP tipe batch, bukan gambar kerja. Nilai suhu, waktu, dan komposisi bersifat contoh; acuan pekerjaan tetap spesifikasi kontrak dan JMF yang disetujui.